Followers

    More news

    Blog Archive

160 x 600 Ad Section

Blog Directories :

Showing posts with label Aceh. Show all posts
Showing posts with label Aceh. Show all posts

Muzakir: Tidak ada yang perlu ditakutkan dengan PA


Mantan Panglima Gerakan Aceh Merdeka, Muzakir Manaf, menegaskan gagasan memerdekakan Aceh telah selesai seiring dengan penandatangan perdamaian tahun 2005.
Muzakir Manaf, yang kini menjadi Ketua Umum Partai Aceh, juga mengatakan dia tidak lagi memimpikan referendum untuk kemerdekaan bagi Aceh.
"Kita sudah komitmen sesuai dengan pemimpin kita yang di Helsinki waktu penandatanganan. Buat apa itu lagi? Dengan Indonesia pun kita sudah komitmen di bawah NKRI semua," kata Muzakir di Banda Aceh.
Bagaimanapun, ketika ditanya apakah dia akan mengangkat senjata lagi apabila upaya perdamaian gagal dilanjutkan, Muzakir mengatakan belum bisa menentukan.
"Saya tidak bisa menjawab sekarang, tapi yang jelas kami ingin hidup damai dan masalah perang untuk masa sekarang, kami tidak memikirkan," kata Muzakir.
Simak wawancara dengan mantan Panglima GAM yang kini menjabat sebagai Ketua Umum Partai Aceh, Muzakir Manaf, dalam acara Tokoh, Hari Minggu, 29 Maret 2009, siaran pukul 05.30 WIB.
Versi panjang wawancara itu juga akan disiarkan khusus oleh puluhan mitra BBC, Hari Senin, 30 Maret 2009, pukul 06.00 WIB.
Politisi
Muzakir Manaf naik ke puncak pimpinan militer GAM tahun 2002 untuk menggantikan Panglima GAM sebelumnya, Abdullah Syafie yang mati tertimbak dalam pertempuran dengan militer.
Tentara GAM yang dikenal dengan Teuntara Neugara Aceh, resmi dibubarkan sesuai dengan nota kesepahaman antara pemerintah Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka.
Nota tersebut ditandatangani di ibukota Finlandia, Helsinki, Agustus 2005.
Kesepakatan damai yang dimediasi oleh mantan Presiden Finlandia, Martti Ahtisaari, ini diharapkan dapat mengatasi konflik separatis di wilayah Aceh yang sudah berlangsung puluhan tahun.
Sesuai dengan kesepakatan damai, di Aceh boleh dibentuk partai-partai lokal untuk mengikuti pemilihan umum.
Muzakir mengaku masih kaku terjun di arena politik
Semula para mantan gerilyawan membentuk partai yang diberi nama GAM dengan lambang bendera gerakan itu, tetapi nama itu menimbulkan polemik sehingga akhirnya diubah menjadi Partai Aceh.
Partai tersebut diketuai oleh Muzakkir Manaf yang mematok partainya harus menang pemilihan legislatif di Aceh.
"Kami targetkan 95% akan menang dan mungkin akan dapat. Kami sesuai dengan pergerakan kami, GAM bekerja sama termasuk di kampung dan di pelosok untuk memenangkan PA," tutur Muzakir.
Lulusan Libya dalam bidang latihan kemiliteran itu mengaku masih merasa kaku terjun di bidang politik praktis sekarang ini.
"Sekarang ini menjurus ke politik, mungkin kita agak kaku dalam menghadapi arena politik ini," tuturnya.
Namun dia mengaku persoalan itu tidak menjadi kendala berkat bantuan kawan-kawannya.
Keamanan
Muzakir Manaf menyatakan khawatir akan situasi keamanan di Aceh menjelang pemilu menyusul terjadinya serangkaian tindakan teror yang diarahkan kepada Partai Aceh dan orang-orangnya, mulai dari penggranatan hingga pembunuhan.
"Ya itulah yang selalu membuat kita was-was. Sebenarnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan atau ditakutkan dengan PA karena inilah orang-orang yang tidak senang dengan perdamaian, dengan hasil penandatangan MoU Helsinki," kata Muzakir.
Menurutnya, ada segelintir oknum yang tidak sependapat dengan garis yang ditempuh pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan yang menginginkan Aceh porak poranda.
"Bagi kami bangsa Aceh, cukup komitmen dengan perdamaian dan semuanya harus komitmen menjaga perdamaian di Aceh. Karena orang Aceh selama satu kurun ini cukup menderita dan kami ingin menikmati perdamaian," tegasnya.
Muzakir Manaf juga dikenal sebagai pengusaha di bidang kontraktor, meski menurut sosok yang berusia 44 tahun ini, bisnis tersebut kini telah ditinggalkan untuk memusatkan diri pada dunia politik.

Stempel Kerajaan Pase Ditemukan


Diperkirakan Berusia 683 Tahun
LHOKSUKON - Tim peneliti sejarah Kerajaan Pase Samudera Aceh Utara, belum lama ini menemukan sebuah stempel yang diperkirakan berusia sekitar 683 tahun. Saat ditemukan, stempel tersebut tertanam dalam tanah di kawasan peninggalan Kerajaan Samudera Pasai di Desa Kuta Krueng Kecamatan Samudera, Aceh Utara. Lokasi penemuan itu tidak jauh dari kompleks makam Abdullah Ibn Muhammad yang meninggal pada tahun 816 Hijriyah atau 1414 M.

Peneliti sejarah, Tgk Taqiyuddin Muhammad mengatakan, stempel itu diyakini milik Sultan Muhammad Al-Malik Azh-Zhahir (meninggal 726 H/1326 M). Sebab, menurutnya, Sultan Muhammad Al-Malik Azh-Zhahir adalah kepala pemerintahan Kerajaan Samudera Pase setelah Al-Malik Ash-Shalih (meninggal 696 H/1297 M). “Karena itu stempel tersebut diperkirakan berusia sekitar 683 tahun dan merupakan cap kerajaan Islam tertua yang pernah ditemukan di nusantara,” ujar Taqiyuddin kepada Serambi, Senin (16/3).

Menurutnya, stempel berbentuk potongan benda kecil itu ditemukan Erwin (18), warga Kuta Krueng Kecamatan Samudera, beberapa waktu lalu dan kemudian ia menyimpannya dengan baik. Namun, lanjutnya, baru-baru ini Erwin memberitahukan temuannya kepada Ramlan Yusuf, juru kunci makam Ratu Nahrisyah yang juga anggota Tim Penelitian dan Dokumentasi Sejarah Kerajaan Islam Samudra Pasai pada Yayasan Waqaf Nurul Islam Lhokseumawe.

Mendapat informasi itu, Ramlan langsung membawa dan melaporkan benda temuan tersebut ke sekretariat tim penelitian yakni Tgk Taqiyuddin. Setelah diteliti, kata Taqiyuddin, ternyata benda unik berukuran 2 X 1 cm dengan gagang yang telah patah, dan menyisakan bagian bolongan bundar pada pangkal gagangnya diyakini adalah stempel. Beratnya, kata dia, tak sampai 1 mg dan tampaknya terbuat dari bahan sejenis tanduk hewan.

Dari lokasi ditemukannya di Kuta Krueng, lanjutnya, diperkirakan cap itu telah digunakan sampai masa pemerintahan Sultan Zainal Abidin bin Ahmad di permulaan abad IX H/XV M. Dengan penemuan itu, katanya lagi, maka klaim sementara sejarawan tentang ekspansi serta penguasaan hinduisme majapahit atas Samudera Pase di pertengahan abad XIV, pantas diragukan.

Disebutkan, kalimat yang terukir dengan khath kufi pada stempel itu ialah, ‘Mamlakah Muhammad’ yang artinya Kerajaan Muhammad. “Khath ini memang lazim digunakan sejak abad I-V hijriah untuk menulis atau menyalin sesuatu yang punya nilai penting dan besar seperti mushaf Alquran dan monumen tertentu untuk peringatan atau kenangan, sebelum kemudian peran itu digantikan oleh khath nasakh (naskhi),” jelasnya.

Terkait dengan temuan itu, ia mengimbau pemkab setempat agar tidak mengusik kawasan peninggalam Samudera Pasai itu dengan membangun berbagai bangunan seperti monumen atau lainnya, apalagi di areal yang relatif sangat dekat dengan kompleks pemakaman Al-Malik Ash-Shalih, di Desa Beuringen Kecamatan Samudera. Sebab, diyakini masih banyak benda lain yang menyangkut sejarah Kerajaan Samudera Pase yang tersimpan dalam tanah. “Kita berkewajiban menyelamatkan apa yang masih tersisa dari Samudera Pase,” katanya.(ib)

Aceh Authorities Urged To Deal With Elephants Running Amok


Banda Aceh ( Berita ) : Local residents of Cot Pangee village have urged authorities in Aceh Jaya District to deal with elephants which have run amok and killed one villager.
“I notice that despite a casualty and damages in hectares of crops, there is no effort to solve the elephant problem in Cot Pangee village,” Saudi M Daud, an inhabitant of Aceh Jaya, on Thursday.


Since November 25, 2008, a herd of elephants have run amok in Cot Pangee village, around 130 km west of Banda Aceh. The herd killed a local resident identified as Muhammad Wali (30), destroyed one house, and rampaged through hectares of farmland and plantations doing serious damage to crops.

Many residents of a rural village in Aceh Jaya district have fled their homes in fear of the herd of wild elephants which have invaded their area. “The residents of Cot Pangee have been traumatized after the herd killed one inhabitant. However, the government of Aceh Jaya District has done nothing so far,” he said.

Iskandar Musa, settlement coordinator in Aceh Jaya District, said that a number of students of Darul Milin Islamic Boarding School have also moved to other areas due to the elephants.
The herd which was estimated to consist of 6 animals emerged from a nearby forest and entered the Cot Pengee village area last Friday (Nov 21).
Musa said earlier that the villagers tried to drive the animals away with traditional methods like making loud sounds but to no avail. Instead, the elephants became more daring with one of them even given to chasing people on sight.

Some worried traditional farmers in the village had threatened to poison the elephants if the authorities fail to solve the problem. ( ant )

Over 1,125 Aceh flood victims evacuated to temporary shelters


Banda Aceh (ANTARA News) - More than 1,125 people in South Aceh district have been evacuated to temporary shelters following flash floods triggered by days of torrential rain since Monday, Aceh provincial social service office spokesman Bukhari said here on Thursday.Bukhari said thousands of houses in Seunebok Pusaka and Cot Bayu villages in Trumon Timur subdistrict, South Aceh, were inundated by flood waters after the heavy rain caused Gelombang river between the two villages to overflow.

Earlier on Tuesday, the flood waters inundated or damaged thousands of houses in the districts of Southeast Aceh, Aceh Singkil, Aceh Jaya, West Aceh, Nagan Raya, and South Aceh.Bukhari said the flood waters started to inundate thousands of houses in the six districts on Monday after several rivers there overflowed their banks.Meanwhile, Trumon Timur subdistrict head said that as of Thursday heavy rain continued to fall in Sunebok Pusaka and Cot Bayu villages but most of the local residents had yet to be evacuated."If the rain fails to subside in the next two days, the number of refugees is predicted to rise even more," he said.

Three months ago, three districts, namely Aceh Jaya, West Aceh, and Nagan Raya on the west coast of the province were inundated by flash floods which were triggered by days of torrential rains.Hundreds of people were then forced to abandon their homes but luckily there was no fatality in the flood disaster."We always remind the people in flood prone areas to remain alert in every rainy season," Bukhari said.Meanwhile, Blang Bintang Meteorology and Geophysics Agency (BMG) spokesman in Aceh Besar, Syamsuir, said part of Aceh province in the next few days would be hit by heavy rains, and therefore the local people should remain alert.

"We will continue to monitor the latest development of floods in the six districts for possible evacuation of flood victims if necessary," Syamsuir said.Asked about basic necessaries in those districts if the local residents were evacuated, Syamsuir said there was no problem because the region had enough rice in stock.(*)

My-Link

Labels